SENJA DI PELABUHAN KECIL - CHAIRIL ANWAR  

Diposting oleh nisrina ingin berkarya

- buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

ANALISIS SAJAK SENJA DI PELABUHAN KECIL KARYA CHAIRIL ANWAR  

Diposting oleh nisrina ingin berkarya


(a) Diksi
Pilihan kata dalam puisi ini terlihat biasa dan terkesan kata-kata yang digunakan dalam kesehariaannya. Tetapi arti katanya bukan arti yang sebenarnya. Walaupun dengan kata-kata yang biasa tapi Chairil memberikannya sebaagai kata-kata yang mengandung makna konotasi. Seperti kata gudang, rumah tua pada cerita, tiang serta temali, mempercaya mau berpaut kata-kata ini bermakna sebuah kedukaan. Bagi penyair gudang dan rumah tua dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna seperti dirinya yang dianggap tiada berguna lagi. Kata ”mempercaya mau berpaut” itu sebenarnya juga berarti harapan Chairil akan kekasihnya.

Pilihan kata seperti kelam dan muram juga memberi kesan pada makna kesedihan yang dirasakan. Kata menemu bujuk pangkal akanan juaga merupakan harapan penyair. Sedangkan kata tanah dan air yang tidur juga menyatakan suatu kebekuan.

Chairil mampu mengolah pilihan katanya sebaik mungkin walaupun dengan bahasa percakapan tapi mampu menghadirkan makna yang dalam. Hanya ada satu kata yang tidak biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu akanan.

(b) Efoni dan Irama
Chairil bukanlah penyair yang selalu terikat pada peratturan sehingga kadang-kadang dia tak pernah memperhatikan bunyi yang ada dalam puisinya. Baginya menulis puisi itu adalah suatu kebebasan. Meskipun demikian dalam puisi ini Chairil tetap memperhatikan bunyi walau tidak terlihat secara mencolok.

Dalam puisi ini memang banyak efek kakafoninya sehingga tidak bisa dikatakan puisi merdu. Banyak bunyi yang mengandung k,p,t,s seperti kali, cinta, di antara, tua, cerita, tiang serta temali, kapal, perahu, mempercaya, berpaut, mempercepat, kelam, kelepak, pangkal, akanan, kini, tanah, tidur, tiada, aku sendiri, semenanjung, pengap, masih, sekali, tiba,sekalian, selamat, pantai, keempat, penghabisan, terdekap, dan bisa. Kata-kata itu menimbulkan efek kakafoni, meskipun terdapat rima, aliterasi dan asonansi. Seperti rima aabbccddefef , aliterasi tidak-bergerak, pengap-harap serta asonansi ini-kal dan, pada-cerita.

Gabungan beberapa unsur bunyi yang terpola tersebut menimbulkan irama yang panjang, lembut dan rendah. Karena irama tersebut menggambarkan kasedihan yang ada pada puisi terbut. Karena irama sajak juga merupakan gambaran akan suasana puisi tersebut.

(c) Bahasa Kiasan
meskipun bahasa dalam puisi ini adalah bahasa percakapan sehari-hari tetapi semuanya adalah bahasa kias. Dalam puisi ini banyak berbagai bahasa kias yang dipakai penyair untuk memperdalam makna yang ada dalam puisinya.

....................................................
di antara gudang, rumah tua pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
.........................................................
........Ada juga kelepak elang
............................................
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Dari kata-kata itu terlihat adanya metafora yang memperdalam rasa duka yang dirasakan. Ketidak berdayaan itu dibandingkan Chairil sebagai sebuah gudang, rumah tua, tiang, dsan temali yang tiada berguna. Harapannya kandas bagai kapal dan perahu yang tidak melaut karena mennghempaskan diri di pantai saja. Serta kebekuan hati bagai air dan tanah yang tidur dan tidak bergerak.

Selain itu juga terdapat personifikasi pada rumah tua pada cerita, ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang, dan kini tanah dan air tidur hilang ombak dan sedu penghabisan bisa terdekap. Dari kata-kata itu penyair menghidupkan rumah tua yang seakan mampu becerita, dan menghidupkan juga kelepak elang yang mampu menyinggung perasaan orang yang sedang muram. Hari pun dikatakan penyair seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik waktu itu. Dia juga berusaha menidurkan tanar dan air sehingga merasa dalamlah kebekuan hati seseorang yang digambarkan. Semuanya ini menyebabkan hanya sendu yang bisa ia peluk bukan orangnya.

Sinekdok terlihat pada kata tiang yang sebenarnya adalah rumah, kata kapal dan perahu yang berarti pelabuhan. Kalimat dan kini tanah dan air tidur hilang ombak juga merupakan ungkapan yang hiperbola karena melebih-lebihkan kedekuan hati sang gadis itu. Bahasa kiasan tersebut sebenarnya hanya ingin mengungkapkan makna yang lebih mendalam pada pembaca.

(d) Citraan
citran yang ada dalam puisi adalah penglihatan ’imagery. Yang mengisyaratkan bahwa pelabuhan kecil itu merupakan tempat perpisahanya. Seolah-olah puisi ini membawa pembaca dengan inderanya untuk melihat suasana pelabuhan yang kecil dan seakan-akan mati. Dengan khayalan yang sudah tergambar Chairil mencoba lagi membawa pembaca lewat puisinya ke dunianya tersebut agar bisa merasahan kesedihan yang dia rasakan.

citraan penglihatan tersebut terlihat dari
diantara gudang, rumah tua pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut

Kalimat tersebut mengajak pembaca mendalami kesunyian yang ada dalam pelabuhan itu dengan melihat keadaan pelabuhan. Dan hal itu sesungguhnya gambaran dari kesunyian sang penyair juga.

(e) Pemikiran dalam Sajak
sajak ini merupakan luapan hati penyair yang sedih setelah ditinggal kekasihnya Sri Ayati menikah dengan seorang perwira. Hal ini merupakan pukulan bagi Chairil karena kekasih yang sangat disayanginya harus menikah dengan orang lain.

Kesediahan ini mungkin dirasakan Chairil terlalu mendalam sehingga semua yang ada disekitarnya dirasakan sunyi , kareena larut dalam kesunyian hatinya. Sehingga kedukaan karena cinta tersebut dibuat penyair dengan sangat plastis. Sehingga seakan-akan semua harapan dan keinginan itu hanya malah membuatnya sakit. Karena harapan untuk menjalin cinta dengan Sri Ayati itu akhirnya kandas juga. Sehingga keseluruhan cerita ini merupakan luapan kesedihan penyair.

Chairil biasanya orang yang tegar dan selalu optimis dalam segala hal tetapi dalam puisi ini dia merasa pesimis karena cintanya sudah kandas. Sehingga puisi ini seakan-akan menjadi melankolis karena sajaknya berisi tentang ratapan dan kesedihan Chairil dalam memikirkan nasib yang benar-benar sudah tak bisa lagi dirubah. Tetapi emosi Chairil yang menguasai puisi ini menyebabkan sajaknya tidak terlalu terlihat sedih.

Semu  

Diposting oleh nisrina ingin berkarya


Aku berdiri ditengah kegelapan malam
Memandang gelap tiada berpendar
Tidak ada yang pasti
Tempat berpijak sudah mati
Bumi putar henti
Dalam kesenduan bernadi
Hanya satu kumau
Agar harapan tetap hidup
Dan menjadi nafas setiap insani

Mimpi  

Diposting oleh nisrina ingin berkarya


Aku bermimpi akan suatu kehidupan
Kehidupan yang lebih baik dari pada disini
Ketika semua kesedihan dan dendam serasa merenggut separuh nyawaku

Aku bermimpi akan suatu kehidupan
Dimana tidak ada lagi tangis kesedihan dan kegundahan
Dimana semua orang hidup bergandengan satu persatu


Aku bermimpi akan suatu kehidupan
Yang jauh dari bayang – bayang kegelapan
Dan jauh dari mereka para hina..

Aku bermimpi
Akan adanya cahaya harapan di tengah semua kemalangan
Akan adanya terang penghidupan di lorong mimpi

Aku bermimpi.....

Ranting Persahabatan. . .  

Diposting oleh nisrina ingin berkarya



Pagi itu, sekolah masih sepi. Ku terdiam, melamun sesaat. Duduk di teras samping kelas dengan memandangi hamparan sawah yang terbentang di samping ruang kelas tempat ku belajar.

Suara hiru pikuk masih terdengar sangat tajam ditelingaku, suara itu terdengar dikejauhan tempat. Kulihat tempat sekelilingku berada. Lalu kulirik jam ditanganku. Tepat masih pukul 06.30. Suatu kemungkinan kecil untuk siswa – siswi SMA Permata Bangsa untuk sampai di sekolah pada pukul 06.30. Yah. . .itu cukup mustahil bagiku, hanya terdapat beberapa anak saja yang sudah nampak waktu itu. Itu pun dikarenakan rumah mereka hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah saja dari sekolah.

Tiba – tiba ada suara dari kejauhan yang memanggilku.
”Bima. . . . . ” suara itu kelihatan sangat kukenal.
Aku menengok. Ternyata Nino, dialah sahabatku. Seorang sahabat yang sangat dekat denganku.
”Bim, sendirian saja kamu ? ”tanya Nino sambil menepuk pundakku.
” Emmm. . . iya no, ini aku la. . . ” jawabku.
”Agh. . . sini Bim, ada yang ingin kutunjukan sama kamu .” Nino memotong pembicaraanku.
Dia menarik tanganku, seolah – olah ada suatu hal penting yang ingin ia tunjukan padaku.

Beberapa saat kemudian, sampailah kita disuatu tempat. Kebun belakang sekolah. Itulah tempat dimana Nino mengajaku. Langkah kita terhenti tepat dibawah pohan tua kering. Nino memandangi pohon itu. Lalu ia menangis. Ku terdiam sesaat. Aku bingung. Aku merasa ada keanehan pada diri Nino saat itu. Tak seperti biasanya. Beribu – ribu tanya muncul di pikiranku sekarang.
”Mana mungkin, seorang Nino meneteskan air mata ketika melihat sebuah pohon tua yang sudah layu, bahkan kering kerontang, hanya tersisa beberapa daun saja yang menempel dipucuk rantingnya. Seorang Nino yang biasanya ceria, penuh canda tawa sekarang menangis karena hanya melihat sebuah pohon.” batinku bertanya – tanya.
”Bim, kamu lihat pohon itu ? ”tanyanya padaku.
”Kamu kenapa Nino, apa ada yang salah dengan pohon itu ? ” pertanyaan itu seakan meluncur begitu saja dari bibirku.
”Pohon itu aku Bim, ia seperti aku. ” jawab Nino dengan wajahnya yang kusam.
”Sudahlah No, kamukan anak cowok kok menangis. Kamu lagi sakit ya ?” tanyaku.
”Sakit ? Sakit apa Bim. . . Aku sehat – sehat saja kok. ” jawab Nino sambil mengusap air matanya.
” Sakit jiwa maksudku. . . . Hahahaha. . . . ” ucapku yang bermaksud untuk menghiburnya.
Nino ikut tertawa, dan kami pun tertawa bersama.

Sampai beberapa saat kemudian, tak ku lihat lagi kesedihan dari wajah Nino. Tetapi masih banyak pertanyaan mengenai Nino yang tersimpan dibenakku. Soal keanehan Nino. ”Apa hubunganya Nino dengan pohon tua itu ? ”
Sampai saat ini aku tak berani untuk menanyakan pertanyaan itu kesiapa pun. Termasuk Nino.

Setelah itu kami berjalan bersama menuju lapangan basket yang terletak tak jauh dari kebun belakang sekolah. Tibanya disana, Nino mengambil salah satu bola basket yang tergeletak disalah satu sudut ruang. Lalu ia melemparkan bola tersebut yang kebetulan langsung masuk ke ring.
”Prok . . . Prok . . . Prok . . . ”aku langsung memberinya tepuk tangan yang bermaksud menyenangkan hatinya.
”Hebat kamu No, tidak heran kalau Pak Mardi memilihmu sebagai ketua EC Basket. ” pujiku terhadapnya.
”Emmm. . . tidak kok Bim, biasa saja. Kamu itu yang lebih hebat dariku. . . ” pujinya untukku.
”Hebat apanya No ? Hebat menyontek ? Iya. . . Hahahaha “ jawabku dengan bercanda dengannya.
Nino ikut tertawa dengan leluconku yang sebenarnya tidak lucu. Kami pun tertawa bersama.

Beberapa menit kemudian, tiba – tiba wajah Nino terlihat sangat pucat. Ia jatuh pinsan. Aku terkejut. Aku mulai dibuat kwatir olehnya. Tak menunggu lama, kubawa Nino ke UKS sekolah. Aku tak tau apa yang menyebabkan Nino sampai tak sadarkan diri. Keadaannya sangatlah kritis. Sampai – sampai Nino harus memdapatkan rawatan dirumah sakit. Ia dirawat selama 3 hari. Tiga hari kulalui tanpa dia disekolah, tanpanya aku sangat kesepian. Karna dialah sahabatku. Teman berbagi canda tawa. Teman untuk berbagi suka duka yang menghampiri.

Ku kembali terduduk diteras depan kelas seperti dari awal bagian cerita. Suasana sepi masih menghampiri saat itu. Kembali kulirik jam ditanganku. Masih pukul 06.30. Pantas saja sekolah masih sangat sepi. Kemudian kumerenung sesaat. Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku terkejut.
”Nino. . . ” ucapku dengan spontan.
”Nino ? ? Sadar Bim, Nino sudak tidak ada. Ini aku Romi. ” ucap Romi menyadarkanku.
”Oh. . . kamu Rom. . . ” jawabku sambil mengusap air mata yang hampir menetes dipipiku. Aku baru sadar kalau ternyata Nino sudah tidak ada. Ia meninggal 3 bulan yang lalu. Ia divonis Dokter mengidap penyakit kanker otak stadium 4. Aku kini tau apa yang dimaksud Nino beberapa bulan yang lalu ketika ia masih hidup. Apa maksud dari pohon tua kering di kebun belakang sekolah yang ia tunjukan kepadaku. Yah. . . aku baru tau sekarang. Bahwa hidup Nino sangat mirip dengan pohon itu.

Selamat jalan Nino. Kaulah sahabatku selamanya. Walau ajal memisahkan kita.